Gedung Manggala Wanabakti Blok VII lantai X, Jl. Gatot Subroto Jakarta
021 – 57903068 ext. 737
bsilhk@menlhk.go.id

Semarakkan IGEFE 2022, BSILHK Bicara Standar Kualitas Kayu dan Arsitektur Bangunan Serta Uji Ambang Kandungan Merkuri

Badan Standardisasi Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BSILHK) turut semarakkan Indonesia Green Environment and Forestry Expo 2022 (IGEFE 2022) yang digelar pada 1-3 Juli 2022 di Jakarta.  Mengangkat topik standar kualitas kayu tebangan, BSILHK gelar talkshow di panggung utama IGEFE 2022. Selain menghadirkan narasumber internal, talkshow BSILHK juga menghadirkan arsitek untuk berbagi aspek penting pengawetan kayu bagi karya arsitektur. Selain itu mobil laboratorium BSILHK melakukan uji ambang kandungan merkuri melalui sampel rambut bagi para pengunjung expo.

Sebagaimana diketahui, tindakan pengawetan terhadap kayu baik yang dilakukan secara sederhana, seperti perendaman dan pelaburan, maupun menggunakan teknologi tinggi (pengempaan dan kimiawi) dapat meningkatkan kualitas kayu, sehingga dapat memperpanjang usia kayu. Hal ini juga berarti ketersediaan sumberdaya kayu yang dimiliki oleh Indonesia dapat terjaga karena akan mengurangi intensitas penebangan hutan. Safeguard pengawetan kayu menjadi penting yaitu untuk menjaga kelas awet kayu melalui mencegahan terhadap serangan serangga mau pun jamur pada kayu, sehingga kayu dapat digunakan dalam waktu yang lama.

Safeguard ini perlu disampaikan pada masyarakat mengingat 80-85% kayu yang terdapat di Indonesia berada pada kelas awet rendah (II, IV dan V), hanya sekitar 15-20% saja yang memiliki kelas awet tinggi (I dan II). Contohnya kayu jati (Tectona grandis). Demikian disampaikan Sekretaris Badan Standardisasi Instrumen LHK, Dr, Nur Sumedi ketika membuka acara talkshow, Minggu (1/7/2022).

Nur Sumedi menambahkan bahwa beberapa jenis pohon yang disukai oleh masyarakat seperti sengon, manglid dan berbagai jenis tanaman MPTS (Multi-Purpose Tree Species) seperti durian dan alpukat sudah diusahakan oleh masyarakat secara luas.  Tetapi karena Indonesia memiliki iklim tropis, maka serangan hama dan penyakit tanaman seringkali menyerang pohon-pohon yang sudah ditanam.  Hal ini merugikan masyarakat, karena umur kayu menjadi rendah.

Oleh sebab itu, safeguard melalui pengawetan kayu dapat membantu masyarakat untuk mencegah terjadinya kerusakan pada kayu.  Cara-cara sederhana seperti perendaman, pencelupan, pemulasan, penyemprotan dan pembaluran dapat digunakan oleh masyarakat.  Salah satu contohnya adalah pengawetan kayu yang dilakukan oleh masyarakat adat Badui dan masyarakat adat lainnya di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Nusa Tenggara merendam kayu.  Kayu yang terawetkan akan mengalami perubahan warna pada batang kayu menjadi kehitaman.

“Indonesia sendiri telah memiliki SNI terkait standar pengawetan kayu untuk perumahan dan gedung, yaitu SNI 03-5010.1-1999”, pungkas  Nur Sumedi.

Sejalan yang disampaikan oleh Nur Sumedi, moderator talkshow, Dr. Yayuk Siswiyanti menyampaikan bahwa tindakan pengawetan terhadap kayu secara sederhana, seperti perendaman dan pelaburan, maupun menggunakan teknologi tinggi seperti pengempaan dan kimiawi dapat meningkatkan kualitas kayu, sehingga dapat menjaga ketersediaan sumberdaya kayu yang dimiliki oleh Indonesia.

Safeguard pengawetan kayu ini penting untuk menjaga kelas awet kayu  melalui pencegahan terhadap serangan serangga maupun jamur pada kayu, sehingga kayu dapat digunakan dalam waktu yang lama. Kerusakan kayu sendiri dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu rusak secara mekanik, kimia, maupun fisik”, ujar Yayuk yang menjabat sebagai Kepala Bagian Evaluasi, Program, Hukum dan Kerjasama Teknis, Sekretariat BSILHK.

Salah satu penyebab rusaknya kayu yang sudah ditebang adalah serangan organisme perusak kayu yang terdiri atas jamur pelapuk kayu, jamur pewarna, dan jamur perusak kayu. Hal tersebut dihighligt oleh Dr. Wa Ode Muliastuty Arsyad dalam paparannya  mengenai Pengawetan Kayu Tebangan untuk Mendukung Pelestarian Hutan .

“Jamur pewarna seperti blue stain dari jenis Ceratocytis dan Diplodia masuk ke dalam kayu melalui potongan atau permukaan yang terkelupas.  Meskipun tidak menurunkan kekuatan kayu, tetapi jamur ini dapat menyebabkan warna kayu menjadi kusam dan tidak menarik.” Muliastuty menambahkan,Jamur pelapuk memiliki enzim untuk menghancurkan selulosa dan lignin sehingga kayu menjadi lapuk dan hancur. Umumnya jamur yang menyerang kayu terdiri dari jenis Polyporus versicolor (jamur putih) dan Poria monticola (jamur coklat).”

Penyuluh kehutanan yang juga ahli pengawetan kayu tersebut menyampaikan bahwa selain berbagai jenis jamur yang dapat merusak kayu, berbagai jenis rayap dan kumbang juga mampu merusak kayu.  Rayap tanah, rayap kayu kering, kumbang ambrosia, dan kumbang bubuk kayu kering merupakan organisme perusak kayu yang banyak menyerang perabot rumah tangga dan furniture, seperti meja, kursi, jendela, dan pintu rumah.

“Rayap tanah jenis Captotermes, Odontotermes, Microtermes dan Nasutitermes mampu membuat terowongan yang berhubungan dengan tanah.  Rayap kayu kering jenis Cryptotermes merusak kayu dan ditandai dengan kotoran rayap berbutir halus di sekitar kayu yang rusak”, ujar mantan peneliti yang kini bekerja di Pusat Standardisasi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan.

Muliastuty juga menyampaikan pengendalian organisame perusak kayu melalui teknik mekanis dan kimia seperti penjemuran, pelaburan dan mencelupkan kayu atau produk kayu ke dalam larutan kimia perlu dilakukan.  Hal ini agar produk kayu memiliki umur pakai yang lama.  Berbagai teknik yang sudah dikembangkan oleh manusia untuk pengawetan kayu perlu memperhatikan sifat kayu yaitu mudah tidaknya kayu dimasukan bahan pengawet kayu, retensi, dan penetrasi bahan pengawet kayu ke dalam pori-pori kayu yang akan diawetkan. Teknik rendaman dingin, rendaman panas dan, vakum tekan terhadap kayu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan kayu.  Papan untuk perumahan, bantalan rel kereta api, pintu, dan jendela menjadi lebih awet dan dapat digunakan dalam tempo lebih lama. Tetapi teknik pengawetan menggunakan bahan kimia dikhawatirkan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan sehingga perlu diperoleh alternatifnya.

“Pengembangan biopestisida yang ramah lingkungan, phenol dari asap cair, dan ekstrak tanaman mampu membunuh rayap, jamur dan bakteri merugikan sehingga perlu terus dikembangkan”, pungkas Muliastuty.

Manfaat teknik pengawetan kayu bagi seorang perencana bangunan dan arsitek juga sangat penting. Hal tersebut diamini oleh Antonius Slamet Nugroho, arsitek anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).  Antonius yang akrab disapa Nugi, menyampaikan pesan ini  dalam presentasinya  yang berjudul Aspek Penting Pengawetan Kayu bagi Karya Arsitektur.

“Kekayaan, apabila didapatkan dengan mudah, sering baru disadari setelah jatuh miskin.  Arsitektur sendiri menyangkut aspek keselamatan, keamanan, kemanfaatan, keselarasan, kesehatan, kenyamanan, kesehatan, kelestarian, dan kemudahan”, dalam presentasinya. Selanjutnya, Nugi  juga menambahkan, “Setiap karya arsitektur mempunyai nilai penting jika terkait budaya karena budaya memiliki aspek keindahan, kesejarahan, pengetahuan dan nilai sosial-spiritual”.

Hutan sendiri menyediakan berbagai macam kebutuhan bagi dunia arsitektur khususnya bahan baku kayu. Alam sendiri merupakan supplier sejati bagi kebutuhan budaya manusia dan perkembangannya.  Oleh sebab itu, kerusakan pada komponen bangunan dapat menurunkan keandalan bangunan dan mengurangi elemen yang dapat dipelajari oleh generasi sekarang dan yang akan datang. “Berhitung merupakan salah satu cara berpikir ekologis sehingga kebutuhan manusia tetap dijamin oleh alam secara seimbang”, menutup presentasinya pada talkshow tersebut.

Indonesia Green Environmental and Forestry Expo (IGEFE) merupakan branding baru acara tahunan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang diselenggarakan pada tanggal 1 – 3 Juli 2022 di Jakarta International Convention Center (JICC).  Pada tahun ini, IGEFE dilaksanakan kembali setelah 2 tahun tertunda karena pandemi COVID-19 dan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seperti pameran (exhibition) dari KLHK dan eselon I, balai-balai, partisipasi dunia usaha, NGO, asosiasi dan stakeholder  terkait, serta seminar/talkshow edukasi untuk generasi muda.  Topik IGEFE tahun 2022 adalah “Kebangkitan Sektor Kehutanan Untuk Indonesia Maju”.

Selain berpartisipasi dalam talkshow, BSILHK turut memamerkan mobil laboratorium sekaligus melakukan uji ambang kandungan merkuri melalui sampel rambut bagi para pengunjung expo. Hasil uji kandungan merkuri dapat menjadi rujukan bagi masyarakat untuk mengubah pola hidupnya apabila kandungan merkuri dalam darahnya lebih dari 2 ppm.

Standar pencemaran merkuri pada tubuh manusia dikatakan tinggi apabila diatas 2 ppm dan dikatakan rendah atau normal apabila di bawah 2 ppm.  Standar ini dikeluarkan oleh WHO dan menjadi rujukan untuk menguji cemaran merkuri.  Masuknya merkuri ke dalam tubuh manusia tidak terlepas dari terjadinya cemaran di perairan oleh limbah elektronika dan tailing dari tambang emas yang menggunakan merkuri. Limbah-limbah yang sudah tercemar merkuri tersebut kemudian masuk ke dalam rantai makanan.

Pemeliharaan lingkungan hidup, khususnya terkait dengan pencemaran merupakan hal penting yang terus dikerjakan. Salah satunya adalah pencegahan cemaran merkuri pada lingkungan hidup.  Hal ini selaras dengan pengesahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2017 mengenai Konvensi Minamata mengenai Merkuri. Upaya pengendalian merkuri pada tambang emas rakyat juga menjadi perhatian UNDP, sehingga untuk mengendalikan cemaran merkuri pada manusia diperlukan adanya sebuah alat uji yang dapat menjamin tersedianya data agar merkuri dapat dikendalikan.

BSILHK telah membangun berbagai fasilitas baik berupa laboratorium merkuri dan laboratorium bergerak agar mudah menjangkau masyarakat secara cepat.  Salah satunya yaitu fasilitas laboratorium bergerak berupa mobil laboratorium yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk menguji merkuri dalam tubuhnya.  Mobil  laboratorium tersebut  telah digunakan juga untuk menguji kandungan merkuri pada masyarakat di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, anak-anak pada masyarakat adat BaduI, dan masyarakat umum. Laboratorium merkuri baik yang bergerak maupun yang tetap dan dibangun di Serpong menjadi safeguard bagi masyarakat Indonesia terkait cemaran merkuri. **IAN/TS

Penulis: Ig. Adi Nugroho, Tutik Sriyati
Editor: Yayuk Siswiyanti

Bagikan Berita / Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published.