Curah Hujan Tinggi – Waspada Longsor & Banjir: Bagaimana mitigasinya?

Curah Hujan Tinggi – Waspada Longsor & Banjir: Bagaimana mitigasinya?

Bangunan, infrastuktur, bahkan jiwa dapat hanyut oleh banjir dan longsor. Rambu-rambu standar LHK membantu mencegahnya. Tingkatkan sensitivitas tanda-tanda.

[BSILHK]_Tingginya curah hujan disertai angin kencang di beberapa wilayah Indonesia satu minggu belakangan ini memunculkan beberapa titik bencana. Untuk Kota Bogor misalnya, dilansir dari beberapa media, BPBD Kota Bogor mencatat terdapat sekitar dua puluh bencana longsor hingga pohon tumbang terjadi di Kota Bogor dalam sehari akibat hujan deras disertai angin kencang. Dalam peristiwa tersebut, dilaporkan satu orang tewas dan sejumlah rumah serta kendaraan rusak akibat tertimpa pohon tumbang.

Jika melihat dari kejadian bencana yang terjadi, longsor yang terjadi tidak serta merta karena kondisi alami. Terdapat beberapa aktifitas manusia yang juga menyebabkan terjadinya longsor, diantaranya adalah kegiatan eksploitasi alam yang tidak terkendali. Misalnya pemotongan lereng, pola tanam yang salah, drainase yang tidak baik, konstruksi bangunan yang tidak memenuhi standar, dan kepadatan penduduk.

Badan Standardisasi Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BSILHK) berinisiatif menelisik lebih dalam rangka memitigasi bencana longsor yang terjadi saat ini. Sebagai instansi yang bertugas dalam perumusan dan penerapan standar, BSILHK telah menyusun beberapa standar sebagai panduan mengurangi risiko pada daerah rawan longsor.

Standar mitigasi bencana longsor nantinya dilaksanakan berdasarkan tingkat kerawanan longsor, melalui pengembangan sistem peringatan dini longsor, dan penerapan sistem konservasi tanah dan air dengan teknik soil bioengineering.

Dalam standar mitigasi bencana longsor, BSILHK menerapkan beberapa langkah diantaranya adalah penentuan lokasi, identifikasi, dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat di sekitar. Setelah mendapatkan informasi, kegiatan dilanjutkan dengan pembangunan peralatan mitigasi bencana dan pemeliharaan. Diakhir kegiatan dilakukan pemantauan, sejauh mana standar mitigasi bencana longsor berhasil diterapkan.

Pada langkah identifikasi, perlu diketahui beberapa faktor penyebab longsor, diantaranya adalah kemiringan lereng, struktur tanah, dan faktor pemicunya seperti curah hujan, gempa, vulkanik, pembangunan jalan, dan pemukiman yang dapat membebani lereng. Dengan melihat kondisi tersebut akan ditempatkan peralatan sebagai bentuk sistem peringatan dini. Salah satu alat yang direkomedasikan adalah SIPENDIL (Sistem Peringatan Dini Longsor). Alat ini dapat digunakan sebagai informasi dan peringatan terhadap probabilitas kejadian longsor yang dipicu oleh curah hujan. Semakin tinggi curah hujan, maka frekuensi bunyi alarm yang terpasang pada Sipendil akan semakin cepat.

Selain Sipendil, terdapat metode lain untuk sistem peringatan dini bencana longsor, yaitu pemasangan bandul pada pohon. Ini adalah metode sederhana untuk mengamati gerakan tanah yang kontinyu. Pemasangan bandul dilakukan pada bagian atas pohon. Apabila bandul bergerak turun, maka bagian atas yang mengalami pergerakan, apabila bandul naik maka pohon bagian bawah yang mengalami pergerakan tanah. Jarak antara pohon atas dan bawah adalah 25 m. Untuk pengecekan dilakukan kalibrasi setiap awal dengan pengecekan titik awal untuk memastikan pergerakan bandul hanya mengindikasikan gerakan tanah saja.

Selain Sipendil dan Bandul, terdapat satu lagi sistem peringatan dini yang dapat digunakan yaitu dengan KUTARA (Kuat Tarik Akar). Kutara adalah alat untuk mendeteksi kuat tarik akar suatu jenis tanaman dalam meningkatkan kuat geser tanah. Pemasangannya cukup mudah dan diterapkan secara insitu dilapangan.

Untuk konservasi tanah dan air dengan teknik soil bioengineering meliputi slope management untuk menjaga kestabilan lereng, water management untuk perbaikan sistem drainase permukaan dan bawah tanah, vegetation management untuk mengatur struktur dan komposisi vegetasi melalui multi stratata kanopi dan pengaturan kerapatan tanaman berdasarkan tingkat kemiringan lereng, dan terakhir community management yaitu partisipasi masyarakat.

Rekayasa Vegetatif Alternatif Mitigasi Bencana Longsor

BPSILHK Solo pernah memberikan rekomendasi mitigasi bencana longsor, yaitu dengan rekayasa vegetatif. Upaya mitigasi ini untuk menjaga tanaman di lereng, tanaman akan menyerap air dan akarnya mengikat tanah. Karena, prinsip pencegahan longsor adalah mencegah air supaya tidak terkonsentrasi di bidang luncur, mengikat massa tanah agar tidak meluncur dengan cara merembeskan air ke lapisan tanah yang lebih dalam dari lapisan kedap air.

Berdasarkan rekayasa ini apabila terdapat tanah gundul di lereng, maka harus dihijaukan. Lereng terjal yang berpotensi longsor sebaiknya dihindari dengan tidak membangun rumah di kaki lereng. Tebing terjal dekat jalan dan permukiman sebaiknya dilandaikan untuk mencegah runtuh.

Dalam menghijaukan lereng, pemilihan jenis tanaman merupakan kunci penting dalam keberhasilan mitigasi bencana longsor dengan rekayasa vegetatif. Pemilihan jenis tanaman tersebut harus memperhatikan peran atau fungsi tanaman, zona potensi longsor, serta elevasi atau ketinggian tempat tumbuh tanaman dari muka laut.

BSILHK melalui BPSILHK Solo telah berhasil menginventarisasi 47 jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk rekayasa vegetatif. Ke-47 jenis tanaman tersebut, diantaranya: Sukun (Artocarpus communis), Nangka (Artocarpus heterophylla), Mimba (Azadirachta indica), Tayuman (Bauhinia hirsula), Kupu-kupu (Bauhinia purpurea), Kenanga (Cananga odorata), Trengguli (Cassia fistula), Johar (Cassia siamea), Asem (Tamarindus indica), Cengkeh (Syzygium aromaticum), Aren (Arenga pinnata), Jambu mente (Anacardium occidentale), Kemiri (Aleurites mollucana), Damar (Agathis alba), Bambu (Bambusa sp), dan Cempedak (Artocarpus champeden).

Dengan menggabungkan teknik rekayasa vegetatif ke dalam soil bioengineering pada standar mitigasi bencana longsor, diharapkan akan lebih menajamkan standar mitigasi bencana longsor dalam rangka meminimalisir terjadinya bencana longsor yang ada di Indonesia.

Penulis: Muhamad Sahri Chair

Editor: Yayuk Siswiyanti

Bagikan Berita / Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *